Belakangan kata “MINDSET” kerap seliweran di beranda kita. Konon kata ini adalah bagian dari motivasi awal, yang katanya adalah bagian dari pondasi sukses. Jika mindsetnya bagus, maka bisa dibilang pondasi suksesnya sudah bagus, tinggal membangun ke atas saya.

Persoalannya adalah mindset rupanya tidak sesederhana arti di Google Translate, yaitu pola pikir. Dulu saya termasuk yang mengartikan mindset sebagai pola pikir. Sehingga, asal cara berpikirnya pas sesuai apa yang diajarkan Mentor, maka selanjutnya aman-aman saja.

Semakin ke sini, semakin menyelami dunia tentang pikiran dan perasaan manusia, saya semakin sadar bahwa mindset rupanya ngga sesederhana itu.

Selama ini seringnya orang meletakkan mindset hanya sebatas pada pikiran sadarnya saja. Sebatas memikirkan bahwa “saya pasti bisa sukses”.

Yang tidak disadari adalah pikiran itu sendiri terbagi menjadi 3:
- Pikiran sadar (conscious mind);
- Pikiran bawah sadar (subconscious mind); dan
- Area Kritis (Reticular Activating System)

Saat banyak yang meletakkan fokus mindset hanya pada pikiran sadar, realitanya adalah 88% kehidupan kita berada dalam pengaruh Pikiran Bawah Sadar.

Artinya, jika 12% kita yakin seyakin-yakinnya sukses, sementara yang 88% ini bilang, “Kamu ngga bakal sukses,” maka akan ada sabotase secara tidak langsung di setiap upaya kita untuk menuju sukses TANPA KITA SADARI.

Di dalam Pikiran Bawah Sadar itu sendiri, kita akan menemui yang namanya Belief System dan Value. Nah loh!

Maka menurut kesoktahuan saya, mindset ini bukan cuma kita mikir bisa sukses doang. Melainkan harus sampai ke level keyakinan yang mendalam di diri kita. Jika sedikit saja ada keraguan di dalam sistem keyakinan kita, maka perjalanan sukses kita bisa jadi mungkin sudah berhenti di titik itu.

Lantas bagaimana membangun keselarasan antara pikiran sadar dan bawah sadar untuk sama-sama kompak menyukseskan kehidupan kita? Kita bahas lain waktu.